Tampilkan postingan dengan label Religion. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Religion. Tampilkan semua postingan

Mengenal Allah Lewat Akal

Download Now

Title : Mengenal Allah Lewat Akal

By : Harun Yahya

Membongkar Kesalahan Faham Materialisme

Ketika buku Evolution Deceit (Keruntuhan Teori Evolusi) karya Harun Yahya
diterbitkan, kaum materialis merasa cemas dan goncang, karena isi buku tersebut membongkar segala kepalsuannya. Tetapi ketika buku yang kini terjemahannya ini terbit, kaum materialis itu bukan hanya cemas dan goncang, bahkan mereka serasa mengalami kehancuran dikarenakan tidak bias lagi mempertahankan filsafat materialisme yang mereka banggakan selama berabad-abad itu, akibat gempuran telak yang dilancarkan oleh Harun Yahya didalam bukunya ini.

Sebagai muslim kontemporer yang hidup di abad materialisme ini, rasanya anda harus membaca buku ini agar anda bisa percaya diri menghadapi para materialis itu.
Disamping buku ini akan memperkuat keimanan anda kepada Allah melalui dalil-dalil yang sangat kokoh dan menakjubkan. [fullfree]


Bukti - Bukti Penguat Ikhlas

Download Now

Title : Bukti - Bukti Penguat Ikhlas

By : -




[fullfree]



Islam dan Pluralisme di Indonesia

Download Now

Title : Islam dan Pluralisme di Indonesia

By : -





[fullfree]



Menelaah Kembali Hakikat Pernikahan Dalam Islam

Download Now

Title : Menelaah Kembali Hakikat Pernikahan Dalam Islam

By : -





[fullfree]



Keislaman dan Pluralisme

Download Now

Title : Keislaman dan Pluralisme

By : -





[fullfree]



Muhammad dan Perjuangan Menegakkan Risalah

Download Now

Title : Muhammad dan Perjuangan Menegakkan Risalah

By : -




[fullfree]



Multikulturalisme dalam Pendidikan Islam

Download Now

Title : Multikulturalisme dalam Pendidikan Islam

By : -





[fullfree]


Doa Sehari - Hari

Download Now


Title : Doa Sehari - Hari

By : -





[fullfree]



Problematika Quranik Pluralisme Agama

Download Now

Title : Problematika Quranik Pluralisme Agama

By : Abd. Moqsith Ghazali

SESUNGGUHNYA pluralisme telah menjadi kesadaran agama-agama sejak mula. Agama umumnya muncul dalam lingkungan pluralistik dan membentuk eksistensi diri dalam menanggapi pluralisme itu. Bahkan, dikatakan bahwa setiap agama justru lahir dari proses perjumpaan dengan kenyataan pluralitas. Dus, pluralisme adalah fakta sosial yang selalu ada dan telah menghidupi tradisi agama-agama. Walau demikian, dalam menghadapi dan menanggapi kenyataan adanya berbagai agama yang demikian pluralistik itu, agaknya setiap umat beragama tidaklah monolitik. Mereka cenderung menempuh cara dan tanggapan yang berbeda-beda, yang jika dikategorisasikan terbelah menjadi dua kelompok yang saling berhadap-hadapan.

Pertama, kelompok yang menolak secara mutlak gagasan pluralisme agama. Mereka biasanya disebut sebagai kelompok eksklusivis. Dalam memandang agama orang lain, kelompok ini sering kali menggunakan standar-standar penilaian yang dibuatnya sendiri untuk memberikan vonis dan menghakimi agama lain. Secara teologis, misalnya, mereka beranggapan bahwa hanya agamanyalah yang paling otentik berasal dari Tuhan, sementara agama yang lain tak lebih dari sebuah konstruksi manusia, atau mungkin juga berasal dari Tuhan tapi telah mengalami perombakan dan pemalsuan oleh umatnya sendiri. Mereka memiliki kecenderungan membenarkan agamanya, sambil menyalahkan yang lain. Memuji agama diri sendiri seraya menjelekkan agama yang lain. Agama orang lain dipandang bukan sebagai jalan keselamatan paripurna. Mereka mendasarkan pandangan-pandangannya itu pada sejumlah ayat di dalam Alquran. Misalnya, [1] QS Ali Imran (3): 85, [2] QS Ali Imran (3): 19 [3] QS Al-Maidah (5): 3. [4] QS An-Nisa (4): 144.

Kedua, kelompok yang menerima pluralisme agama sebagai sebuah kenyataan yang tak terhindarkan. Kelompok ini biasanya berpandangan bahwa agama semua nabi adalah satu. Mereka menganut pandangan tentang adanya titik-titik persamaan sebagai benang merah yang mempersambungkan seluruh ketentuan doktrinal yang dibawa oleh setiap nabi. Bagi kelompok kedua ini cukup jelas bahwa yang membedakan ajaran masing-masing adalah dimensi-dimensi yang bersifat teknis-operasinal bukan yang substansial-esensial, seperti tentang mekanisme atau tata cara ritus peribadatan dan sebagainya. Terdapat ayat yang menjadi menu favorit di kalangan kelompok kedua ini. Misalnya, [1] QS Al-Kafirun (109):6 [2] QS Al-Baqarah (2): 256. [3] QS Al-Maidah (5): 69, [4] QS Al-An’am (6): 108.

Melihat hal di atas, maka muncul tarik tambang antara satu ayat dengan ayat yang lain. Betapa, dalam satu spektrum, pluralisme Quranik diungkapkan melalui janji penyelamatan terhadap orang-orang yang beragama selain agama Islam (QS Al-Baqarah (2):62). Sementara pada spektrum yang lain, absolutisme Islam juga terpampang dengan tegas dalam Alquran. Kontradiksi nyata antara beberapa ayat Alquran yang mengakui sumber-sumber penyelamatan otentik lainnya di satu sisi dan ayat-ayat lain yang menyatakan Islam sebagai satu-satunya sumber penyelamatan di sisi yang lain harus diatasi untuk memungkinkan tegaknya sebuah tata kehidupan berdampingan secara damai dengan umat agama lain.

Dalam kenyataannya sayang sekali tidak banyak para ulama dan cendekiawan muslim yang memiliki perhatian utama untuk coba menyelesaikan ayat-ayat kontradiktif tersebut, baik dengan cara memperbarui penafsiran maupun dengan menyusun sebuah metodologi tafsir yang baru. Hingga sekarang, sekelompok pemikir Islam yang concern pada gagasan pluralisme agama biasanya hanya mengutip satu-dua ayat yang mendukung pluralisme agama dan sering kali melakukan pengabaian bahkan terkesan “lari” dari ayat-ayat yang menghambat jalan pendaratan pluralisme agama. Demikian juga sebaliknya. Sembari merayakan ayat-ayat yang problematis dari sudut pluralisme agama, para ulama eksklusif kerap menafikan ayat-ayat yang secara literal jelas-jelas mendukung pluralisme agama. [fullfree]


Beriman Tanpa Rasa takut

Download Now



Title : Beriman Tanpa Rasa takut

By : Irshad Manji


The Trouble with Islam Today: A Muslim’s Call for Reform in Her Faith

By: reneehall

Itu judul buku yang baru selesai kubaca hari ini. Judul Indonesianya Beriman Tanpa Rasa Takut, diterbitkan oleh Nun Publisher --akhirnya. Penulisnya Irshad Manji seorang jurnalis yang kolom-kolomnya muncul secara teratur di New York Times, Wall Street Journal, Times of London, Al-Arabiya.net dan sejumlah sumber berita besar lainnya. Dia juga penulis tetap feature untuk Globe and Mail Canada.

Irshad juga seorang pendiri Project Ijtihad, yaitu sebuah usaha untuk memperbaharui cara berpikir kritis, berdebat dan berpikir alternatif (baca:berbeda) dalam tradisi Islam. Seorang Senior Fellow dalam European Foundation for Democracy Director of the Moral Courage Project pada New York University yang bertujuan untuk mengembangkan pemimpin-pemimpin yang akan challenge political correctness, intellectual conformity dan self-censorship. Dalam semangat terbaik dari pendidikan bebas, the Moral Courage Project mengajarkan bahwa hak datang bersamaan dengan tanggung jawab, bahwa kita adalah sebuah warga masyarakat bukan anggota dari suku-suku dan bahwa keberagaman hanya berarti apabila tidak hanya identitas tetapi perbedaan ide juga diterima.

Buku ini adalah buku yang kuimpikan. Aku membacanya dengan rakus, sampai pundak dan mataku tegang. Emosiku mengharu biru. Inilah dia segala hal yang selama ini ingin kusampaikan.

Semula dengan menulis ini aku ingin menulis ‘tentang’ buku ini. Tetapi setelah aku selesai membacanya aku rasa aku tidak akan bisa menuliskan dengan lebih jelas lagi duduk permasalahannya, lebih baik orang-orang membaca buku ini sendiri. Irshad telah berbaik hati menyediakan terjemahan Bahasa Indonesia dalam websitenya http://www.irshadmanji.com/indonesian-edition . Jadi ku ajak Anda semua yang sudah muak dengan keadaan kita sekarang untuk melihat lebih dekat apa sebenarnya yang sedang terjadi di sekitar kita.

- Kenapa tiba-tiba pelajaran Budi Pekerti hilang dan istilahnya diganti dengan ‘akhlak’?

- Kenapa banyak sekolah negeri yang lebih mirip madrasah-madrasah yang disubsidi pemerintah dari pada sekolah umum biasa untuk seluruh rakyat?

- Kenapa di seluruh instansi pemerintah pemandangan yang kita temui nyaris seragam: :perempuan berjilbab? (bahkan seniman Dede Yusuf yang baru terpilih minggu ini jadi wakil gubernur Jawa Barat berpose dengan istrinya yang mengenakan kerudung)

- Kenapa begitu banyak muatan pelajaran agama di sekolah-sekolah negeri?

- Kenapa anak perempuan di sekolah-sekolah negeri pun di paksa berjilbab (dengan cara halus maupun kasar)?

- Kenapa banyak daerah-daerah tiba-tiba menuntut penerapan syariah Islam (yang sayangnya sudah terjadi di beberapa tempat)?

- Kenapa orang Islam bertambah arogan, munafik dan makin jauh dari makna ISLAM?

- Kenapa kaum fundamentalisme bisa berkembang subur?

- Kenapa sekarang sulit sekali mengucapkan selamat suka cita maupun duka cita pada tetangga kita yang berlainan iman?

- Kenapa orang Islam umumnya membenci Yahudi?

- Apakah Islam agama yang benar sementara ajarannya juga menghalalkan darah orang lain untuk dibunuh (lihatlah para penjahat yang melakukan pengeboman dimana-mana dengan berlindung pada ayat Al Qur’an juga) ?

- Apakah negara yang berdasar Islam lantas menjadikan masyarakatnya benar-benar makmur, aman, terlindungi bukannya malah tambah miskin dan teraniaya terutama kaum wanitanya?

- Apakah benar bahwa Islam adalah satu-satunya solusi seperti yang sering didengung-dengungkan partai Islam atau kelompok-kelompok Islam garis keras?

- Apakah untuk menerapkan Islam secara benar kita harus kembali ke masa permulaan Islam, sehingga harus juga menerapkan hukum yang berlaku di padang pasir di tengah-tengah orang jahil pula? (saking jahilnya sampai-sampai hukuman untuk mereka adalah rajam, potong tangan, penggal kepala, dikubur hidup-hidup, di mana letak kemanusiaannya bila ingin diterapkan pada manusia masa kini yang kecerdasan dan kesadarannya lebih maju beberapa abad, apalagi ingin diterapkan di Indonesia, yang bodohnya mereka tidak tahu kalau leluhurnya telah berbudaya tinggi, bermoral tinggi dan memahami hidup dan kehidupan lebih dari mereka yang sekedar membaca Al Quran)?

Masih banyak kenapa-kenapa dan apakah-apakah yang lain. Untuk sementara cukuplah itu. Di buku ini dibeberkan masalahnya. Duduk perkaranya hingga akhirnya kini keadaan bermuara seperti yang kita lihat saat ini.

Intinya adalah saat ini sebenarnya yang terjadi adalah ARABISASI, bukan Islamisasi. Sayangnya banyak orang tidak menyadari dan secara sistematis yang telah sadar pun dibuat tidak menyadarinya lagi.

Sialnya mereka yang tidak sadar itulah yang rajin cuap-cuap di media baik koran, majalah, radio, TV, internet dan dengan sombong berkoar-koar tentang Islam dan hukum Islam yang mereka hanya tahu kulitnya.

Kalau ada orang yang berpikir atau mencoba berpikir, bertanya, mempertanyakan –contohnya hal-hal di atas--di katakan menuhankan pikiran. Aku pernah mengalaminya sendiri. Waktu ku balik dia dengan pertanyaan sebenarnya dari mana kelompoknya mendapat dana untuk berdakwah kesana kemari mencari pengikut dan bisa sibuk seharian hanya bicara dan berdebat menyuruh orang agar berhenti bertanya dan berpikir, dia membisu.

Kata menuhankan pikiran adalah cara ala Indonesia untuk secara sistematis membuat orang tidak ingin berpikir lagi. Menjadi taqlid. Sehingga apapun yang dikatakan imamnya, yang dikatakan kyai, ustadz, yang dikatakan MUI, akan diikuti dengan keyakinan penuh. Berani mati!


Dan Ijtihad pun mati!

Apabila tidak ada lagi yang berijtihad, maka akan lahirlah penguasa-penguasa baru yang berjubah kebesaran agama sebagai penafsir satu-satunya yang benar dan di diridhoi. Ingin tahu ujungnya? Ujung yang satu : kekuasaan. Ujung satunya lagi : duit.


Jadi saudara-saudaraku , siapapun juga yang membaca tulisan ini. Cobalah kunjungi Irshad Manji. Dengarlah apa yang disampaikannya. Cerna!. Dia memiliki pengalaman yang jauh lebih baik dan banyak dari kita yang mudah-mudahan tetap dapat hidup damai di Indonesia dan dia pandai pula menceritakannya kepadamu.

Aku ingin mendengar pendapatmu. Apakah kau berjalan bersamaku?


Salam dan Semoga engkau diberkati! [fullfree]


Al Qur'an in Your Language

Download Now


Title : Quran in Your Language

By : Allah





[ choose your language englishfree frenchfree]



A Christmas Carol

Download Now

Title : A Christmas Carol

By : Charles Dickens

A Christmas Carol (originally, A Christmas Carol in Prose, Being a Ghost Story of Christmas) is a novella by English author Charles Dickens about a miserly curmudgeon and his secular conversion and redemption after being visited by four ghosts on Christmas Eve. The book was first published on 19 December 1843 with illustrations by John Leech, and quickly met with commercial success and critical acclaim. The tale has been viewed as an indictment of nineteenth century industrial capitalism and has been credited with returning the holiday to one of merriment and festivity in Britain and America after a period of sobriety and sombreness. A Christmas Carol remains popular, has never been out of print,[1] and has been adapted to film, opera, and other media.

Sources

The principal forces that shaped A Christmas Carol were the profoundly humiliating experiences of the author's childhood, his sympathy during the decades of the 1830s and 1840s with the poor, especially children, and Washington Irving's stories of the traditional old English Christmas. While there are other authors before Dickens who celebrated the season, it was Dickens who imposed his secular vision of the holiday upon the public.

In 1824, Dickens's father John Dickens was arrested for debt and imprisoned in the Marshalsea. The family moved into the prison but twelve-year-old Charles was forced to take lodgings nearby, pawn his collection of books, leave school, and accept employment in a blacking factory. The boy had a deep sense of class and intellectual superiority and was entirely uncomfortable in the presence of the other factory workers who referred to him as "the young gentleman". He developed nervous fits. When his father was released at the end of a three month stint, young Dickens was forced to continue working in the factory which only grieved and humiliated him further. He despaired of ever recovering his former happy life. The devastating impact of the period wounded him psychologically, coloured his work, and haunted his entire life with disturbing memories. It was during this period Dickens observed the lives of the men, women, and children in the most impoverished areas of London and witnessed the social injustices they suffered.

In early 1843, Dickens toured the Cornish tin mines where he saw children working in the most appalling conditions. The suffering he witnessed there was reinforced by a visit to the Field Lane Ragged School, one of several London schools set up for the education of the capital's half-starved, illiterate street children. Dickens read the Second Report of the Children's Employment Commission dated February 1843, a parliamentary report that exposed the horrifying effects the Industrial Revolution inflicted upon the lives of poor children. In a speech at the Manchester Athenaeum, he urged workers and employers to join together to combat ignorance with education. In May 1843, he planned to publish an inexpensive political pamphlet tentatively titled, "An Appeal to the People of England, on behalf of the Poor Man's Child" but changed his mind, deferring the pamphlet's production until the end of the year. He wrote Dr. Southwood Smith, one of four commissioners responsible for the Second Report, about his change in plans: "[Y]ou will certainly feel that a Sledge hammer has come down with twenty times the force – twenty thousand times the force – I could exert by following out my first idea." The pamphlet would become A Christmas Carol.

The descriptions of long-abandoned English Christmas customs and traditions in Washington Irving's Bracebridge Hall attracted Dickens,[2] and the two authors shared the belief that the staging of a nostalgic English Christmas might restore a social harmony and well-being lost in the modern world. In "A Christmas Dinner" from Sketches by Boz (1833), Dickens had approached the holiday in a manner similar to Irving, and, in the Pickwick Papers (1837), he offered an idealized vision of an 18th century Christmas at Dingley Dell. In the Pickwick episode, Mr. Wardle relates the tale of Gabriel Grub, a lonely and mean-spirited sexton, who undergoes a Christmas conversion and transformation after being visited by goblins who show him the past and future – the prototype of A Christmas Carol.

Other likely influences were a visit made by Dickens to the Western Pentitentiary in Pittsburgh, Pennsylvania in April 1842;[11][note 1] the decade-long fascination on both sides of the Atlantic with spiritualism;[3] fairy tales and nursery stories (which Dickens regarded as stories of conversion and transformation);[12] contemporary religious tracts about conversion;[12] and the works of Douglas Jerrold in general, but especially "The Beauties of the Police" (1843), a satirical and melodramatic essay about a father and his child forcibly separated in a workhouse,[11] and another satirical essay by Jerrold which may have had a direct influence on Dickens's conception of Scrooge called "How Mr. Chokepear keeps a merry Christmas" (Punch, 1841).[1]

The Chancery Lane offices, formerly Smithson's solicitors in the town of Malton, North Yorkshire were the model for Scrooge’s counting house in Carol, and that the church bells which feature so prominently in the novel were those of St. Leonard’s on Church Hill, Malton. Dickens befriended Smithson whilst he was in London completing his legal training. A lifelong friendship ensued which involved Dickens visiting Malton many times and featuring many of the people and places he met through Smithson in his writings. [fullfree]



Christmas at Home

Download Now

Title : Christmas at Home

By : Uncle William








[fullfree]



Religion

Judul : Kamus Matematika Remaja

Penulis : Michael J. Brown










Welcome

....dont count book whom you read. but, a count book available and waiting for your answer.......